Rawatlah Mentalmu, Seperti Kamu Merawat Fisikmu

 Assalamu,alaikum.Wr.Wb, halo semuanya, apa kabar? Semoga senantiasa diberikan kesehatan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

 

Kali ini saya akan sedikit membicarakan mengenai mental illness. Sehat sering kali dipersepsikan dari segi fisik saja. Padahal sehat juga berarti tentang kesehatan jiwa. Sayangnya, persoalan kesehatan jiwa masih dianggap kalah penting dibandingkan kesehatan fisik. Padahal saat ini sudah ada asuransi kesehatan yang menawarkan perlindungan terkait kesehatan mental.

 

WHO menyebutkan, anak muda alias generasi milenial saat ini adalah kalangan yang lebih rentan terkena gangguan mental. Terlebih masa muda merupakan waktu di mana banyak perubahan dan penyesuaian terjadi baik secara psikologis, emosional, maupun finansial. Misalnya upaya untuk lulus kuliah, mencari pekerjaan, atau mulai menyicil rumah.

 

Kesadaran masyarakat Indonesia mengenai kesehatan mental pada awalnya benar-benar tertutup. Namun, kini masyarakat mulai membuka matanya secara perlahan mengenai pentingnya kesehatan mental. Pada saat ini pun sering kita temukan film, karya tulis, thread twitter, feed Instagram, yang sering memberikan edukasi mengenai kesehatan mental.

 

Namun, kesehatan mental di Indonesia masih terganjal masalah stigma. Banyak orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dinilai gila, tidak bisa sembuh, atau kurang pengetahuan agama, atau bahkan sedang dirasuki oleh makhluk halus sehingga perlu diruqyah atau sebagainya. Padahal gangguan kejiawaan adalah salah satu kondisi medis yang terjadi pada otak.

 

Salah satu stigma yang saya pernah alami adalah, penyamarataan standar mental seseorang. Di lingkungan saya atau bahkan hampir di mana saja, pasti beranggapan orang bermental kuat adalah orang yang tidak mudah menangis, orang yang tegas, orang yang dapat membuat keputusannya sendiri dan lain sebagainya. Padahal jika di-analogikan mental juga sama seperti dengan fisik, sama-sama memiliki tingkat kekuatan yang berbeda. Ada orang yang terlahir dengan fisik yang kuat sehingga ketika kehujanan pun dia tidak demam, ada juga yang terlahir dengan fisik yang lemah, hanya makan es krim saja besoknya sudah demam. Sama dengan mental ada yang dibentak sedikit saja sudah menangis ada yang sudah dimaki dengan ribuan kata tapi masih tetap cengar cengir.

 

Hal yang membuat saya heran adalah kenapa jika dalam kesehatan fisik orang-orang selalu memakluminya tapi tidak dengan kesehatan mental. Padahal gangguan kesehatan mental itu benar-benar nyata, terbukti dengan adanya kasus bunuh diri dan sebagainya. Mental juga perlu dirawat dengan benar, bukan dengan kata “baru segini aja nangis” “kamu harus kuat” “kamu masih mending begini, nah aku…”, kata- kata di atas adalah kata-kata yang sering diucapkan orang lain kepada kita yang tujuannya untuk menguatkan namun kata-kata di atas sebenarnya adalah bentuk dari toxic positivity.

Toxic positivity menunjukkan positivity yang tidak realistis. Bahkan seseorang yang menunjukkan emosinya yang sebenarnya akan dianggap lemah. Hal itu membuat seseorang menjadi tidak jujur akan perasaannya dan hanya menunjukkan sikap positif namun palsu.

Hal itu bisa terjadi dalam sebuah keluarga, kelompok teman, atau dalam pekerjaan. Ketika seseorang dituntut untuk selalu melihat sisi positif maka tidak akan ada yang mau mengatakan jika ada masalah karena akan ditolak atau dicap negatif. Padahal mengenali masalah adalah hal yang penting agar bisa dicari solusinya.

 

Banyak orang yang selalu menekankan kata “kamu harus kuat” tapi hanya sekedar menkankan saja, tanpa mau membantu kita untuk “menjadi kuat” seperti yang mereka mau. Jika kita analogikan kembali dengan fisik, hal itu sama saja dengan menyuruh orang yang sedang terkilir untuk tetap berjalan tegap seperti biasa. Padahal kita bisa memilih opsi beristirahat sampai kaki kita  membaik untuk berjalan dengan tegap lagi. Jika dibiarkan memaksa untuk tetap berjalan, bisa saja nantinya akan menimbulkan efek yang lebih serius di kemudian hari. Sama dengan mental seseorang. Ketika  seesorang sedang mengalami stress dan orang-orang yang  yang berada di dekatnya tidak membantunya dalam beristirhat atau bahkan malah menambah bebannya bisa saja malah akan menyebabkan gangguan mental yang lebih parah seperti depresi. Untuk disaat kita sedang mangalami masa sulit, peran orang di sekitar kita sangat penting untuk membatu kita bangkit kembali.

 

Untuk terakhir kalinya saya ingin berpesan agar tidak lupa menjaga kesehatan mental kita masing-masing. Saya juga ingin mengatakan jika orang yang kuat secara mental bukanlah orang yang tidak mudah menagis atau orang yang selalu tegas di setiap langkahnya, tetapi orang yang walaupun dia menangis dan masih ada keraguan dalam dirinya, dia memilih untuk tidak lari dari masalah yang dia hadapi. Jangan lupa untuk mencintai mentalmu seperti kamu mencintai fisikmu.


Sekian dari saya, Sampai jumpa di lain waktu, Wassalamu'alaikum.Wr.Wb

 

 

Komentar